RPP Seni Budaya SMP Kelas VIII Semester Ganjil Kurikulum 2013

04.21 Add Comment
Berikut ini adalah RPP Seni Budaya untuk SMP Kelas VIII Semester Ganjil  kurikulum 2013

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


Sekolah                 :  SMP …
Mata Pelajaran :  Seni Budaya (Seni Musik )
Kelas/ Semester :  VIII/Satu
Alokasi Waktu :  7 Pertemuan (21 JP)

A. Kompetensi Inti
1. Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya.
2. Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya
3. Memahami dan menerapkan pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata
4. Mengolah, menyaji, dan menalar dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori

B. Kompetensi Dasar
1.1. Menerima, menanggapi dan menghargai keragaman dan keunikan musik daerah sebagai bentuk rasa syukur terhadap anugerah Tuhan
2.1. Menunjukkan sikap menghargai, jujur, disiplin, melalui aktivitas berkesenian
2.2.    Menunjukkan sikap bertanggung jawab, peduli, santun terhadap karya musik, dan penciptanya serta arangernya
3.3.    Memahami teknik dan gaya bermain musik tradisional secara perorangan atau kelompok
4.3.    Memainkan instrumen musik tradisional secara perorangan atau kelompok

C. Indikator Pencapaian Kompetensi
1.1.1. Bersyukur atas keanekaragaman dan keunikan musik tradisional di Indonesia sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa.
2.1.1 Menghargai  aktivitas berkesenian.
2.1.2 Jujur dalam melakukan aktivitas berkesenian.
2.1.3 Disiplin dalam melakukan aktivitas berkesenian musik.
2.2.1 Bertanggungjawab terhadap karya musik  dan kelompok masyarakat  sebagai penciptanya serta arrangernya.
2.2.2 Peduli terhadap karya musik dan kelompok masyarakat  sebagai penciptanya serta arrangernya
2.2.3 Santun terhadap karya musik dan kelompok masyarakat  sebagai penciptanya serta arrangernya
3.3.1. Mengidentifikasi jenis alat musik tradisional daerah setempat
3.3.2 Mendeskripsikan  teknik dasar memainkan  alat musik tradisional idiophone,aerophone, chordophone, dan membranophone  secara  kelompok
4.3.1.  Memainkan alat musik tradisional idiophone,aerophone, chordophone, dan membranophone  daerah setempat dengan teknik yang baik dan benar secara kelompok
4.3.2. Memainkan  alat musik tradisional idiophone, aerophone, chordophone, dan membranophone  daerah setempat secara kelompok untuk mengiringi lagu tradisional daerah setempat

D. Materi Pembelajaran

1. Materi Pembelajaran  Reguler

1) Jenis-jenis Alat Musik Tradisional Indonesia
a) Macam-macam alat musik tradisional Indonesia (misalnya tifa, sasando, sampek, siter, kendhang, dan lain-lain)
b) Pembagian jenis alat musik tradisional berdasarkan bentuknya:
bentuk tabung: contoh angklung, calung dan suling,
bentuk pencon: contoh kenong, gong,dan bonang
bentuk bilah-bilah: contoh saron, gender, dan gambang
c) Pembagian jenis alat musik tradisional berdasarkan fungsinya:
Berfungsi sebagai ritmis: contoh kendang, rebana, dan tifa
Berfungsi sebagai melodi:  contoh saron, suling, dan slenthem, rebab
Berfungsi sebagai harmoni:  contoh sasando, sampek dan gender, bonang
d) Pembagian jenis alat musik tradisional berdasarkan sumber bunyinya:
idiophone,contoh saron,kenong dan gong
aerophone, contoh suling, dan  saluang, serunai
chordophone, contoh siter, kecapi dan rebab
membranophone, contoh kendhang, rebana dan tifa

2) Teknik dasar memainkan alat musik tradisional idiophone, aerophone, chordophone, dan membranophone
a) Teknik dasar memainkan alat musik tradisional idiophone
Dipukul dengan alat tertentu:gamelan
Dipukulkan: geprak (biasa dipakai untuk menghalau burung di sawah)
Saling dipukulkan: kecir
Digoncang: angklung
b) Teknik dasar memainkan alat musik tradisional aerophone
Ditiup: suling, saluang, serunai
c) Teknik dasar memainkan alat musik tradisional chordophone
Dipetik: siter, sampek, sasando.
Digesek: rebab
d) Teknik dasar memainkan alat musik tradisional membranophone
Dipukul dengan alat tertentu: kendang dipukul dengan tangan, bedug dipukul dengan kayu pemukul.

2. Materi Pembelajaran  Pengayaan

1)   Memainkan alat musik tradisional idiophone dan aerophone
a) Teknik dasar memainkan alat musik tradisional idiophone
Dipukul dengan alat tertentu
Dipukulkan
Saling pukul
Digoncang
b) Teknik dasar memainkan alat musik tradisional aerophone
Ditiup

2)   Memainkan alat musik tradisional chordophone
dan membranophone

a) Teknik dasar memainkan alat musik tradisional chordophone
Dipetik
Digesek
b) Teknik dasar memainkan alat musik tradisional membranophone
Dipukul dengan alat tertentu

3. Materi Pembelajaran  Remedial

a. Jenis-jenis Alat Musik Tradisional Indonesia
     Pembagian jenis alat musik tradisional berdasarkan sumber bunyinya:
idiophone,contoh saron,kenong dan gong
aerophone, contoh suling, korno dan  saluang
chordophone, contoh siter, kecapi dan rebab
membranophone, contoh kendang, rebana dan tifa

b. Teknik dasar memainkan alat musik tradisional idiophone, aerophone, chordophone, dan membranophone
1) Teknik dasar memainkan alat musik tradisional idiophone
Dipukul dengan alat tertentu
Dipukulkan
Saling pukul
Digoncang
2) Teknik dasar memainkan alat musik tradisional aerophone
Ditiup
3) Teknik dasar memainkan alat musik tradisional chordophone
Dipetik
Digesek
4) Teknik dasar memainkan alat musik tradisional membranophone
Dipukul dengan alat tertentu


E. Kegiatan Pembelajaran

1. Pertemuan Pertama: 3 JP

a. Kegiatan Pendahuluan  (10 menit )
Dalam kegiatan pendahuluan, guru:
1) memimpin berdoa bersama dan dilanjutkan presensi.
2) meminta peserta didik mempersiapkan buku catatan,buku siswa, dan alat musik untuk mengikuti pelajaran dengan menyenangkan.
3) mengecek penguasaan kompetensi peserta didik yang sudah dipelajari sebelumnya,yaitu tentang menyanyikan lagu daerah secara unisono dengan cara menyanyikan kembali lagu-lagu daerah secara bersama-sama.
4) menyampaikan kompetensi yang akan dicapai dan menunjukkan manfaat dalam kehidupan sehari-hari.
5) menyampaikan garis besar cakupan materi dan kegiatan belajar yang akan dilakukan
6) menyampaikan lingkup penilaian dan teknik penilaian yang akan digunakan.

b. Kegiatan Inti (95 menit)
1) Mengamati
a) Peserta didik menyaksikan video pembelajaran tentang bermain alat musik tradisional secara kelompok dengan teknik dasar yang baik dan benar.
b) Peserta didik menyaksikan pemodelan guru yang memainkan alat musik tradisioanal dengan teknik dasar yang baik dan benar.

2) Menanya
Peserta didik merumuskan pertanyaan-pertanyaan terkait dengan macam-macam alat musik tradisional Indonesia, jenis-jenis alat musik tradisional berdasarkan bentuk, fungsi dan sumber bunyi serta teknik bermain alat musik tradisional secara kelompok dengan teknik dasar yang baik dan benar,  misalnya: Apa saja alat musik tradisional yang dimainkan dengan dipetik, ditiup, dipukul? Bagaimana teknik yang baik dan benar dalam memainkan alat musik tradisional tersebut?

3) Mengumpulkan Informasi/Data/Mencoba
Peserta didik membaca Buku Siswa halaman:56-71 tentang teknik bermain musik tradisional dan sumber-sumber yang lain untuk menemukan macam-macam alat musik tradisional Indonesia, jenis-jenis alat musik tradisional berdasarkan bentuk, fungsi dan sumber bunyinya serta menemukan teknik dasar memainkan alat musik tradisional yang baik dan benar.

4) Menalar/Mengasosiasi
1` Peserta didik menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dirumuskan tentang macam-macam alat musik tradisional Indonesia, jenis-jenis alat musik tradisional berdasarkan bentuk, fungsi dan sumber bunyinya serta menemukan teknik dasar memainkan alat musik tradisional yang baik dan benar dengan menggunakan informasi/data yang diperoleh secara kelompok.
2. Peserta didik merumuskan kesimpulan secara kelompok.

c. Mengomunikasikan
1. Peserta didik mempresentasikan jawaban/kesimpulan yang telah dibuat secara kelompok.
2. Peserta didik menerima umpan balik dari guru dan/atau teman sekelas.

d. Kegiatan Penutup (15 menit)
1) Peserta didik (dengan atau tanpa bantuan guru):
(a) membuat rangkuman/simpulan pelajaran;
(b) melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan; dan
(c) menerima umpan balik keterlibatannya dalam proses dan hasil pembelajaran.
2) Peserta didik:
(a) mengikuti penilaian;
(b) mengkuti pembelajaran remedi atau program pengayaan atau memperoleh 
     layanan konseling dan/atau mengerjakan tugas baik tugas individual maupun
     kelompok sesuai dengan hasil belajar masing-masing; dan
(c) mencatat kompetensi yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya.
3) Peserta didik berdoa dan mengucapkan salam .

2. Pertemuan Kedua :3 JP

a. Kegiatan Pendahuluan  (10 menit )
Dalam kegiatan pendahuluan, guru:
1. memimpin berdoa bersama dan dilanjutkan presensi.
2. meminta peserta didik mempersiapkan buku catatan,buku siswa, dan alat musik untuk mengikuti pelajaran dengan menyenangkan.
3. mengecek penguasaan kompetensi peserta didik yang sudah dipelajari sebelumnya,yaitu tentang jenis-jenis alat musik tradisi dan teknik dasar memainkan alat musik tradisional dengan cara tanya jawab.
4. menyampaikan kompetensi yang akan dicapai dan menunjukkan manfaat dalam kehidupan sehari-hari.

b. Kegiatan Inti (95 menit)
1) Mengamati
a) Peserta didik menyaksikan video interaktif tentang teknik bermain alat musik tradisional idiophone secara kelompok dengan teknik dasar yang baik dan benar.
b) Peserta didik menyaksikan pemodelan guru yang memainkan alat musik tradisioanal idiophone dengan teknik dasar yang baik dan benar.

2) Menanya
Peserta didik merumuskan pertanyaan-pertanyaan terkait teknik bermain alat musik tradisional idiophone secara kelompok dengan teknik dasar yang baik dan benar,  misalnya: Ada berapa teknik dalam memainkan alat musik idiophone? Bagaimana memainkan alat musik idiophone dengan teknik dasar yang baik dan benar?

3) Mengumpulkan Informasi/Data/ Mencoba (Experimenting)
Peserta didik mencoba memainkan alat musik tradisional idiophone dengan teknik yang benar

4) Mengasosiasi
Peserta didik berlatih memainkan alat musik tradisional idiophone dengan teknik dasar yang baik dan benar secara kelompok .

5) Mengomunikasikan
Peserta didik menampilkan permainan alat musik tradisional idiophone dengan teknik dasar yang baik dan benar secara kelompok di depan kelas dan kelompok lain menanggapi .

c. Kegiatan Penutup (15 menit)
1. Peserta didik (dengan atau tanpa bantuan guru):
(a) membuat rangkuman/simpulan pelajaran;
(b) melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan; dan
(c) menerima umpan balik keterlibatannya dalam proses dan hasil pembelajaran.
2. Peserta didik:
(a) mengikuti penilaian;
(b) mengkuti pembelajaran remedi atau program pengayaan atau memperoleh 
     layanan konseling dan/atau mengerjakan tugas baik tugas individual maupun
     kelompok sesuai dengan hasil belajar masing-masing; dan
(c) mencatat kompetensi yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya.
3. Peserta didik berdoa dan mengucapkan salam.

3. Pertemuan Ketiga: 3 JP

a. Kegiatan Pendahuluan  (10 menit )
Dalam kegiatan pendahuluan, guru:
1. memimpin berdoa bersama dan dilanjutkan presensi.
2. meminta peserta didik mempersiapkan buku catatan,buku siswa, dan alat musik untuk mengikuti pelajaran dengan menyenangkan.
3. mengecek penguasaan kompetensi peserta didik yang sudah dipelajari sebelumnya,yaitu tentang teknik dasar memainkan alat musik  tradisional idiophone dengan cara meminta peserta didik memainkan  alat musik tradisional tersebut secara perorangan atau bersama-sama
4. menyampaikan kompetensi yang akan dicapai dan menunjukkan manfaat dalam kehidupan sehari-hari.

b. Kegiatan Inti (95 menit)
1) Mengamati
a) Peserta didik menyaksikan video pembelajaran tentang teknik bermain alat musik tradisional aerophone secara kelompok dengan teknik dasar yang baik dan benar.
b) Peserta didik menyaksikan pemodelan guru yang memainkan alat musik tradisioanal aerophone dengan teknik dasar yang baik dan benar.

2) Menanya
Peserta didik merumuskan pertanyaan-pertanyaan terkait teknik bermain alat musik tradisional aerophone secara kelompok dengan teknik dasar yang baik dan benar,  misalnya: Ada berapa teknik dalam memainkan alat musik aerophone? Bagaimana teknik memainkan alat musik aerophone dengan teknik dasar yang baik dan benar?

3) Mengumpulkan Informasi
Peserta didik mencoba memainkan alat musik tradisional aerophone  dengan teknik yang benar

4) Mengasosiasi
Peserta didik berlatih memainkan alat musik tradisional aerophone dengan teknik dasar yang baik dan benar secara kelompok .

5) Mengomunikasikan
Peserta didik menampilkan permainan alat musik tradisional aerophone  dengan teknik dasar yang baik dan benar secara kelompok di depan kelas dan kelompok lain menanggapi .
 
c. Kegiatan Penutup (15 menit)
1. Peserta didik (dengan atau tanpa bantuan guru):
(a) membuat rangkuman/simpulan pelajaran;
(b) melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan; dan
(c) menerima umpan balik keterlibatannya dalam proses dan hasil pembelajaran.
2. Peserta didik:
(a) mengikuti penilaian;
(b) mengkuti pembelajaran remedi atau program pengayaan atau memperoleh 
     layanan konseling dan/atau mengerjakan tugas baik tugas individual maupun
     kelompok sesuai dengan hasil belajar masing-masing; dan
(c) mencatat kompetensi yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya.
3. Peserta didik berdoa dan mengucapkan salam.

4. Pertemuan Keempat: 3 JP

a. Kegiatan Pendahuluan  (10 menit )
Dalam kegiatan pendahuluan, guru:
1. memimpin berdoa bersama dan dilanjutkan presensi.
2. meminta peserta didik mempersiapkan buku catatan,buku siswa, dan alat musik untuk mengikuti pelajaran dengan menyenangkan.
3. mengecek penguasaan kompetensi peserta didik yang sudah dipelajari sebelumnya,yaitu tentang teknik dasar memainkan alat musik  tradisional aerophone dengan cara meminta peserta didik memainkan  alat musik tradisional tersebut secara perorangan atau bersama-sama.
4. menyampaikan kompetensi yang akan dicapai dan menunjukkan manfaat dalam kehidupan sehari-hari.

b. Kegiatan Inti (95 menit)
1) Mengamati
a) Peserta didik menyaksikan video interaktif tentang teknik bermain alat musik tradisional chordophone secara kelompok dengan teknik dasar yang baik dan benar.
b) Peserta didik menyaksikan pemodelan guru yang memainkan alat musik tradisioanal chordophone dengan teknik dasar yang baik dan benar.

2) Menanya
Peserta didik merumuskan pertanyaan-pertanyaan terkait teknik bermain alat musik tradisional chordophone secara kelompok dengan teknik dasar yang baik dan benar,  misalnya: Ada berapa teknik dalam memainkan alat musik chordophone ? Bagaimana teknik memainkan alat musik chordophone dengan teknik dasar yang baik dan benar?

3) Mengumpulkan Informasi
Perserta didik mencoba memainkan alat musik tradsional chordophone dengan teknik dasar yang benar

4) Mengasosiasi
Peserta didik berlatih memainkan alat musik tradisional chordophone dengan teknik dasar yang baik dan benar secara kelompok .


5) Mengomunikasikan
Peserta didik menampilkan permainan alat musik tradisional chordophone dengan teknik dasar yang baik dan benar secara kelompok di depan kelas dan kelompok lain menanggapi .
 
c. Kegiatan Penutup (15 menit)
1. Peserta didik (dengan atau tanpa bantuan guru):
(a) membuat rangkuman/simpulan pelajaran;
(b) melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan; dan
(c) menerima umpan balik keterlibatannya dalam proses dan hasil pembelajaran.

2. Peserta didik:
(a) mengikuti penilaian;
(b) mengkuti pembelajaran remedi atau program pengayaan atau memperoleh 
     layanan konseling dan/atau mengerjakan tugas baik tugas individual maupun
     kelompok sesuai dengan hasil belajar masing-masing; dan
(c) mencatat kompetensi yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya.
3. Peserta didik berdoa dan mengucapkan salam.

5. Pertemuan Kelima: 3 JP

a. Kegiatan Pendahuluan  (10 menit )
Dalam kegiatan pendahuluan, guru:
1. memimpin berdoa bersama dan dilanjutkan presensi.
2. meminta peserta didik mempersiapkan buku catatan,buku siswa, dan alat musik untuk mengikuti pelajaran dengan menyenangkan.
3. mengecek penguasaan kompetensi peserta didik yang sudah dipelajari sebelumnya,yaitu tentang teknik dasar memainkan alat musik  tradisional chordophone dengan cara meminta peserta didik memainkan  alat musik tradisional tersebut secara perorangan atau bersama-sama .
4. menyampaikan kompetensi yang akan dicapai dan menunjukkan manfaat dalam kehidupan sehari-hari.

b. Kegiatan Inti (95 menit)
1) Mengamati
a) Peserta didik menyaksikan video interaktif tentang teknik bermain alat musik tradisional membranophone secara kelompok dengan teknik dasar yang baik dan benar.
b) Peserta didik menyaksikan pemodelan guru yang memainkan alat musik tradisioanal membranophone dengan teknik dasar yang baik dan benar.

2) Menanya
Peserta didik merumuskan pertanyaan-pertanyaan terkait teknik bermain alat musik tradisional membranophone secara kelompok dengan teknik dasar yang baik dan benar,  misalnya: Ada berapa teknik dalam memainkan alat musik membranophone? Bagaimana teknik memainkan alat musik membranophone dengan teknik yang baik dan benar?

3) Mengumpulkan Informasi
Peserta didik mencoba memainkan alat musik tradsional membranophone dengan teknik dasar yang benar

4) Mengasosiasi
Peserta didik berlatih memainkan alat musik tradisional membranophone dengan teknik dasar yang baik dan benar secara kelompok .

5) Mengomunikasikan
Peserta didik menampilkan permainan alat musik tradisional membranophone  dengan teknik dasar yang baik dan benar secara kelompok di depan kelas dan kelompok lain menanggapi .

c. Kegiatan Penutup (15 menit)
1. Peserta didik (dengan atau tanpa bantuan guru):
(a) membuat rangkuman/simpulan pelajaran;
(b) melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan; dan
(c) menerima umpan balik keterlibatannya dalam proses dan hasil pembelajaran.
2. Peserta didik:
(a) mengikuti penilaian;
(b) mengkuti pembelajaran remedi atau program pengayaan atau memperoleh 
     layanan konseling dan/atau mengerjakan tugas baik tugas individual maupun
     kelompok sesuai dengan hasil belajar masing-masing; dan
(c) mencatat kompetensi yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya.
3. Peserta didik berdoa dan mengucapkan salam.


6. Pertemuan Keenam: 3 JP

a. Kegiatan Pendahuluan  (10 menit )
Dalam kegiatan pendahuluan, guru:
1. memimpin berdoa bersama dan dilanjutkan presensi.
2. meminta peserta didik mempersiapkan buku catatan,buku siswa, dan alat musik untuk mengikuti pelajaran dengan menyenangkan.
3. mengecek penguasaan kompetensi peserta didik yang sudah dipelajari sebelumnya,yaitu tentang teknik dasar memainkan alat musik  tradisional membranophone dengan cara meminta peserta didik memainkan  alat musik tradisional tersebut secara perorangan atau bersama-sama .
4. menyampaikan kompetensi yang akan dicapai dan menunjukkan manfaat dalam kehidupan sehari-hari.

b. Kegiatan Inti (95 menit)
1) Mengamati
Peserta didik menyaksikan video tentang teknik bermain alat musik tradisional idiophone, aerophone, chordophone dan membranophone dengan teknik dasar yang baik dan benar untuk mengiringi  lagu tradisional daerah setempat.

2) Menanya
Peserta didik merumuskan pertanyaan-pertanyaan terkait teknik memainkan alat musik tradisional idiophone, aerophone, chordophone dan membranophone untuk mengiringi lagu tradsional secara kelompok.



3) Mengumpulkan Informasi
Peserta didik mencoba memainkan alat musik tradisional idiophone, aerophone, chordophone dan membranophone untuk mengiringi lagu tradsional daerah setempat secara kelompok.

4) Mengasosiasi
Peserta didik berlatih memainkan alat musik tradisional idiophone, aerophone, chordophone dan membranophone dengan teknik dasar yang baik dan benar secara kelompok untuk mengiringi sebuah lagu tradisional daerah setempat.

c. Kegiatan Penutup (15 menit)
1. Peserta didik (dengan atau tanpa bantuan guru):
(a) membuat rangkuman/simpulan pelajaran;
(b) melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan; dan
(c) menerima umpan balik keterlibatannya dalam proses dan hasil pembelajaran.
2. Peserta didik:
mencatat kompetensi yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya.
3. Peserta didik berdoa dan mengucapkan salam.


7. Pertemuan Ketujuh: 3 JP

a. Kegiatan Pendahuluan  (10 menit )
Dalam kegiatan pendahuluan, guru:
1. memimpin berdoa bersama dan dilanjutkan presensi.
2. meminta peserta didik mempersiapkan buku catatan,buku siswa, dan alat musik untuk mengikuti pelajaran dengan menyenangkan.
3. mengecek penguasaan kompetensi peserta didik yang sudah dipelajari sebelumnya,yaitu tentang teknik dasar memainkan alat musik  tradisional idiophone, aerophone, chordophone dan mebranophone dengan cara meminta peserta didik memainkan  alat musik tradisional tersebut secara bersama-sama.
4. menyampaikan kompetensi yang akan dicapai dan menunjukkan manfaat dalam kehidupan sehari-hari.

2) Kegiatan Inti (80 menit)
5) Mengomunikasikan
Peserta didik menampilkan sebuah lagu dengan iringan permainan alat musik tradisional idiophone, aerophone,  chordophone dan membranophone  dengan teknik dasar yang baik dan benar secara kelompok di depan kelas dan kelompok lain menanggapi .

3) Kegiatan Penutup (30 menit)
1. Peserta didik (dengan atau tanpa bantuan guru):
(a) membuat rangkuman/simpulan pelajaran;
(b) melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan; dan
(c) menerima umpan balik keterlibatannya dalam proses dan hasil pembelajaran.
2. Peserta didik:
(a) mengikuti penilaian;
(b) mengkuti pembelajaran remedi atau program pengayaan atau memperoleh 
     layanan konseling dan/atau mengerjakan tugas baik tugas individual maupun
     kelompok sesuai dengan hasil belajar masing-masing; dan
(c) mencatat kompetensi yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya.
3. Peserta didik berdoa dan mengucapkan salam.



F. Penilaian, Pembelajaran , Pengayaan dan Remedial

1. Teknik penilaian
a. Penilaian Sikap Spiritual: Observasi
b. Penilaian Sikap Sosial: 1) Observasi dan 2) Penilaian Antar Teman
c. Penilaian Pengetahuan: Penugasan
d. Penilaian Keterampilan: Tes Penampilan (Praktik)
2. Instrumen penilaian dan pedoman penskoran (terlampir)
a. Lembar Observasi Sikap Spiritual: Bersyukur (lampiran 1)
b. Lembar Observasi Sikap Sosial (lampiran 2a)
c. Lembar Penilaian Antar Teman Sikap Sosial (lampiran 2b)
d. Lembar Penilaian Produk (lampiran 3)
e. Lembar Penilaian Penampilan Memainkan Alat Musik (lampiran 4a; 4b)

G. Media/ Alat, Bahan, dan Sumber Belajar
1) Media/Alat:
a) Alat musik tradisional idiophone, aerophone,chordophone dan membranophone.
b) Audio, visual, audio visual, chart.
2) Bahan: -

3) Sumber Belajar:
a. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 2014. Buku Guru Seni Budaya untuk SMP/Mts Kelas VIII. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Halaman: 62-69).
b. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 2014. Buku Siswa Seni Budaya untuk SMP/MTs Kelas VIII. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Halaman: 56-71).
c. Video tentang teknik bermain alat musik tradisional idiophone dengan teknik dasar yang baik dan benar secara kelompok
d. Video tentang teknik bermain alat musik tradisional aerophone dengan teknik dasar yang baik dan benar secara kelompok
e. Video tentang teknik bermain alat musik tradisional chordophone dengan teknik dasar yang baik dan benar secara kelompok
f. Video tentang teknik bermain alat musik tradisional membranophone dengan teknik dasar yang baik dan benar secara kelompok
g. Teks lagu tradisional Indonesia.
h. Pengetahuan alat-alat musik, Pono Banu


313 Contoh Judul PTK untuk Guru

01.01 Add Comment
Pada postingan kali ini saya coba tampilkan 313 contoh judul-judul PTK yang sering dipakai, semoga bisa memberikan inspirasi bagi Bapak/Ibu Guru yang ingin melaksanakan PTK sebagai syarat Kenaikan Pangkat. Dengan memodifikasi judul PTK yang ada harapannya tercipta judul PTK yang baru, sehingga dapat bermanfaat dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah Bapak/Ibu Guru. Berikut ini adalah 313 Contoh Judul PTK untuk Guru :


  1. Upaya meningkatkan Pencapaian Kompetensi Dasar Pelajaran PAI Melalui Program Pembiasaan Siswa Kelas IV VII SMP .....
  2. Pembelajaran Sains Berbasis Proyek (Project Based Learning ) Untuk Menngkatkan Academic Skill Siswa SMP ….
  3. Peningkatan Image Anak tentang Tempat-Tempat Jauh (Hubungannya dengan Kehidupan Manusia dan Lingkungan ) Melalui Media Gambar dan Group Discussion di SDN….
  4. Meningkatkan Penguasaan Bahasa Kosa Kata Bahasa Inggris Melalui Permaianan (Studi di SMP …. )
  5. Pembelajaran Di Luar Kelas dengan Pendekatan Pemecahan Masalah Bersama untuk Meningkatkan Mtivasi Belajar dan Pemahaman Konsep Lingkungan Siswa Kelas VII SMP….
  6. Model Penemuan dan dan Pemecahan Masalah dengan Pendekatan Realistik pada Pembelajaran Matematika di SMP….
  7. Aplikasi Pembelajaran Kolaboratif Berbasis Asessement Autentik Untuk Meningkatkan Pembelajaran Pkn Kelas VIII SMP….
  8. Pembelajaran Konstektual dengan Metode Inkuiri untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir,Hasil dan Motivasi Belajar IPA pada Siswa Kelas VIII SMP ….
  9. Penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah dengan Strategi Kooperatif Model STAD pada Mata Pelajaran Sains untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas VII SMP….
  10. Implementasi Konseling Perkembangan dalam Model Pembiasaan Perilaku Belajar Siswa SD….
  11. Pembelajaran Matematika Berbantuan Alat Peraga Untuk Menciptakan Pembelajaran yang Menyenangkan Bagi Siswa Kelas 3 SD….
  12. Peningkatan Efektifitas Pembelajaran Anak Autis Melalui Implementasi Pendekatan Indivudualized Education Program( IEP) di SDN ….
  13. Penerapan Perangkat Pembelajaran Inovatif dalam Rangka Peningkatan Penguasaan Ketrampilan Proses Sains pada Siswa Kelas IV SDN ….
  14. Perbaikan Teknik Menyanyikan Nada-Nada Melodi Melalui Teknologi MIDI di SDN ….
  15. Peningkatan Kualitas Pembelajaran Gejala-Gejala Alam dengan Menggunakan Metode Pembelajaran Mock Up di Sekolah Dasar….
  16. Optimalisasi Penggunaan Asessement autentik untuk Meningkatkan Kerja Ilmiah Siswa pada Pembelajaran Sains di SDN….
  17. Pembelajaran Lingkungan sebagai Sumber Belajar dalam Upaya Meningkatkan Kompetensi Berbahasa Indonesia Siswa Kelas 4 SD….
  18. UpayaPeningkatan Kemampuan dan Hasil Belajar Siswa SD dalam Pembelajaran IPS dengan Media Gambar
  19. Upaya Peningkatan Kemampuan dan Motivasi Belajar Siswa SDn,, dengan Pemberian Hadiah–
  20. Upaya Mengatasi Kesulitan Belajar Melalui Pemberian Bimbingan Belajar
  21. Peningkatan Kedisplinan Siswa Melalui Keteladanan Guru SD
  22. Upaya Meningkatkan Pembelajaran Fisika Pada Sekolah SLTP Melalui Optimalisasi Kegiatan
  23. Laboratorium Berbasis Cooperative Learning Sebagai Implementasi KBK
  24. Peranan Bertanya Siswa SD Dalam Meningkatkan Proses Belajar Mengajar Matematika
  25. Peranan Penggunaan Metode Ceramah Dan Tanya Jawab Terhadap Peningkatan Prestasi Belajar Mata Pelajaran IPS Terpadu Kelas VI SD
  26. Peningkatan Kedisiplinan Siswa SD…Upaya. Upaya Menumbuhkan Bakat Dan Kreativitas Siswa kelas IV SD Dalam Pembelajaran Matematika Melalui Metode Discovery Learning
  27. Upaya Meningkatkan Minat Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Dengan Menggunakan Metode Laboratory
  28. Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Dalam Pembelajaran IPA Di SD Melalui Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat
  29. Peningkatan Pembelajaran Matematika Di SD Melalui Penggunaan Alat Peraga Secara Efektif
  30. Upaya Mengoptimalkan Bimbingan Konseling di SD Untuk Mengatasi Kesulitan Belajar Anak
  31. Upaya Peningkatan Kedisiplinan Siswa Melalui Penerapan Hukuman yang MendidikU
  32. Upaya Meminimalkan Miskonsepsi Konsep-Konsep IPA melalui Pembelajaran Konstruktivis Siswa SDN…
  33. Upaya Meningkatkan Prestasi Pembelajaran IPA dengan Pendekatan Ketrampilan Proses Siswa SDN….
  34. 33Peranan Alat Peraga Terhadap Peningkatan Minat Belajar Matematika
  35. Upaya Peningkatan Kemampuan Bahasa Lisan (Berbicara) Melalui Metode Sosiodrama
  36. Upaya Mengatasi Kesulitan Belajar Membaca Melalui Pengintegrasian Permainan Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
  37. Peranan Penggunaan Metode Ceramah Dan Tanya Jawab Terhadap Peningkatan Prestasi Belajar Mata Pelajaran IPS Terpadu Kelas VI
  38. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keaktifan Murid Dalam Kegiatan Belajar Mengajar Ditinjau
  39. Upaya Meningkatkan Pembelajaran Fisika di SD Melalui Optimalisasi Kegiatan Laboratorium sebagai Implementasi KBK
  40. Upaya Mengoptimalkan Bimbingan Konseling di SD Mengatasi Kesulitan Belajar Anak
  41. Peranan Bertanya Siswa SD Dalam Meningkatkan Proses Pembelajaran Matematika
  42. .Peranan Penggunaan Metode Tanya Jawab Terhadap Pembelajaran IPS Siswa SDN,…
  43. .Upaya Mengaktifan Siswa dalam Pembelajaran Matematika di SDN…dengan Metode Kooperatif Learning
  44. .Peningkatan Motivasi Belajar Matematika di Siswa Kelas V SDN… dengan Strategi Pakem
  45. Upaya Meningkatkan Minat dan Motivasi Belajar IPS Melalui Metode Ceramah Bervariasi Siswa Kelas V SDN….
  46. Peningkatan Pembelajaran Matematika di SD …Melalui Penggunaan Alat Peraga Secara Efektif.
  47. Meningkatkan Motivasi Pembelajaran IPA melalui Pendekatan Eksplorator Discovery.
  48. Peranan Media Dalam Meningkatkan Ketrampilan Membaca di Kelas Rendah
  49. Upaya Menumbuhkan Bakat dan Kreatifitas Siswa Kelas IV SDN….Melalui Metode Discovery Learning.
  50. Upaya Meningkatkan Minat Belajar Siswa dalam Pembelajaran Matematika dengan MenggunakanMetode Laboratory
  51. Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa dalam Pembelajaran IPA di SD… Melalui Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat
  52. Upaya Menumbuhkan Bakat Dan Kreativitas Siswa kelas IV SD Dalam Pembelajaran Matematika Melalui Metode Discovery Learning
  53. Upaya Meningkatkan Minat Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Dengan Menggunakan Metode Laboratory
  54. Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Dalam Pembelajaran IPA Di SD Melalui Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat
  55. Peningkatan Pembelajaran Matematika Di SD Melalui Penggunaan Alat Peraga Secara Efektif
  56. Upaya Mengoptimalkan Bimbingan Konseling di SD Untuk Mengatasi Kesulitan Belajar Anak
  57. Upaya dengan Meningkatkan Kemampuan Menulis Karangan Bahasa Indonesia di SD dengan Mengefektifkan Penggunaan Media Gambar
  58. Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar IPA Melalui Model Pembelajaran Quantum Teaching
  59. Upaya Meningkatkan Keaktifan Siswa dalam Pembelajaran IPA di SDN… Melalui Pendekatan Inkuiri
  60. Upaya Meningkatkan Kreativitas Siswa SDN…Dalam Pembelajaran IPA Menggunakan Model Pembelajran Konsruktivisme
  61. Upaya Meningkatkan Pemahaman Siswa SDN… dalam Pembelajaran IPA dengan Metode Demonstrasi
  62. Upaya Mengoptimalkan Bimbingan Konseling di SDN …untuk Mengatasi Kesulitan Belajar
  63. Upaya Mengoptimalkan Alat Peraga di SDN… dengan Menggunakan Alat Peraga
  64. Upaya Meningkatkan Kemampuan Bahasa Lisan ( Berbicara ) Melalui Metode Sosiodrama
  65. Upaya Mengatasi Kesulitan Belajar Membaca Melalui Pengintegrasian Permainan dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
  66. Peningkatan Minat Belajar Siswa di SDN… dengan Memanfaatkan Perpustakaan Sebagai Sumber Belajar
  67. Upaya Peningkatan Prestasi Pembelajaran Matematika Melalui Penerapan Pendekatan Mastery Learning
  68. Upaya Mengatasi Kesulitan Belajar di SDN…melalui Pemberian Bimbingan Belajar
  69. Upaya Meningkatkan Ketrampilan Siswa melalui Optimalisasi Perpaduan Hands-On dan Minds-On Menggunakan KIT IPA di SDN….
  70. Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar IPA dengan Pendekatan (STM) Sains Teknologi Masyarakat di SDN….
  71. Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa di SDN,,, dengan Memberikan Hadiah
  72. Upaya Meningkatkan Pembelajaran IPA di SDN,,.. dengan Alat Peraga dan Metode Inkuiri
  73. Upaya Peningkatan Pembelajaran Matematika Siswa Kelas V SDN …Melalui Metode Inkuiri
  74. Upaya Peningkatan Prest asi Olah Raga Siswa SDN… Melalui Motivasi Guru
  75. Upaya Peningkatan Pembelajaran Bahasa Indonesia di SDN…dengan Pendekatan Terpadu
  76. Upaya Peningkatan Minat Belajar PKn Siswa Kelas IV SDN… dengan KBK
  77. Upaya Peningkatan Efektifitas Pembelajaran IPA Siswa Kelas IV SDN… Melalui Pendekatan Ketrampilan Proses
  78. Upaya Peningkatan Pembelajaran IPS Siswa SDN… dengan Menggunakan Media Gambar
  79. Upaya Peningkatan Menulis Karangan Bahasa Indonesia Kelas IV SDN… dengan Menggunakan Media Gambar
  80. Peningkatan Kemampuan Berbahasa Siswa SD Kelas II dengan Menggunakan Pembelajaran Bahasa Terpadu
  81. Upaya Peningkatan Kemampuan Berbicara Siswa Kelas V SDN… melalui Metode Diskusi dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
  82. Upaya Peningkatan Motivasi Belajar IPA Siswa SDN…dengan Metode Quontum Teaching
  83. Upaya Peningkatan Daya Kreativitas Siswa SDN…Melalui Metode Pemberian Tugas
  84. Upaya Peningkatan Ketrampilan Menulis Lanjut Siswa SDN…Melalui Media Gambar
  85. Upaya Menumbuhkan Kegemaran dan Aktivitas Siswa SDN…dalam Pembelajaran Apresiasi Sastra melalui Metode Quantum
  86. Upaya Peningkatan Kreativitas Siswa Melalui Bimbingan Karir di SDN…
  87. Upaya Meningkatkan Penerapan konsep Pembelajaran Pkn Melalui Model Pembelajaran BerbasisPortopolio dengan Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat
  88. 88. Upaya Menumbuhkan Bakat Dan Kreativitas Siswa kelas IV SD Dalam Pembelajaran Matematika Melalui Metode Discovery Learning
  89. .Upaya Meningkatkan Minat Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Dengan Menggunakan Metode Laboratorium
  90. Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Dalam Pembelajaran IPA Di SD Melalui Pendekatan Sains Teknologi Masyaraka
  91. .Peningkatan Pembelajaran Matematika Di SD Melalui Penggunaan Alat Peraga Secara Efektif
  92. Upaya Mengoptimalkan Bimbingan Konseling di SD Untuk Mengatasi Kesulitan Belajar Anak
  93. Upaya Peningkatan Pemahaman Matematika Siswa SDN… Melalui Cara Repetitif Atau Pengulangan
  94. Upaya Peningkatan Ketrampilan Menulis Siswa Kelas V SDN … melalui Pembelajaran Holistik
  95. Upaya Meningkatkan Kemampuan Mengarang Siswa SDN …dengan Media Gambar Berseri
  96. Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar IPA di Sd Dengan Pendekatan Ketrampilan Proses
  97. Peningkatan Kedisplinan Siswa Melalui Keteladanan Guru SD
  98. Upaya Meningkatkan Pembelajaran Fisika Pada Sekolah SLTP Melalui Optimalisasi Kegiatan
  99. Laboratorium Berbasis Cooperative Learning Sebagai Implementasi KBK
  100. Peranan Bertanya Siswa SD Dalam Meningkatkan Proses Belajar Mengajar Matematika
  101. Peranan Penggunaan Metode Ceramah Dan Tanya Jawab Terhadap Peningkatan Prestasi Belajar Mata Pelajaran IPS Terpadu Kelas VI SD
  102. Melalui Pembelajaran Kooperatif Learning Untuk Meningkatkan Minat Belajar Siswa Kelas IV SD
  103. Upaya Mengatasi Kesulitan Belajar Melalui Pemberian Bimbingan Belajar
  104. Upaya Menumbuhkan Bakat Dan Kreativitas Siswa kelas IV SD Dalam Pembelajaran Matematika Melalui Metode Discovery Learning
  105. Upaya Meningkatkan Minat Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Dengan Menggunakan Metode Laboratory
  106. Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Dalam Pembelajaran IPA Di SD Melalui Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat
  107. .Peningkatan Pembelajaran Matematika Di SD Melalui Penggunaan Alat Peraga Secara Efektif
  108. Upaya Mengoptimalkan Bimbingan Konseling di SD Untuk Mengatasi Kesulitan Belajar Anak
  109. Peranan Alat Peraga Terhadap Peningkatan Minat Belajar Matematika
  110. Melalui Perpustakaan Dapat Meningkatkan Belajar Bagi Siswa Di Kelas IV
  111. Upaya Meningkatkan Kedisiplinan Siswa Melalui Keteladanan Guru SD
  112. .Upaya Meningkatkan Prestasi Mata Pelajaran Matematika Melalui Penerapan Pendekatan Mastery Learning
  113. Upaya Mengatasi Kesulitan Belajar Melalui Pemberian Bimbingan Belajar Di SD
  114. Efektivitas Penggunaan Media Gambar Seri Guna Meningkatkan Kemampuan Menulis Karangan Bahasa Indonesia Siswa Kelas IV SD
  115. Meningkatkan Ketrampilan Siswa Melalui Optimalisasi Perpaduan Hands-On Dan Minds-On Menggunakan Kit IPA Dalam Pembelajaran IPA di SD
  116. Upaya Mengatasi Masalah Belajar Siswa Kelas III Melalui Bimbingan Belajar di SD
  117. Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Ipa Dengan Pendekatan (STM) Sains Teknologi Masyaraka
  118. Peranan Hadiah Sebagai Perangsang Timbulnya Kompetisi Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa SD
  119. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keaktifan Murid Dalam Kegiatan Belajar Mengajar Ditinjau
  120. Dari Penggunaan Media Dan Kondisi Kelas Pada Sekolah Dasar
  121. Peranan Metode Inkuiri Dan Alat Peraga Tiga Dimensi Dalam Peningkatan Prestasi Pembelajaran Ipa Di Kelas IV SD
  122. Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar IPA Di Kelas IV SD Dengan Model Pembelajaran Kostruktivisme
  123. Upaya Meningkatkan Keaktifan Belajar Matematika Pada Anak Kelas V SD Melalui Metode Inkuiri
  124. Peranan Penggunaan Metode Ceramah Dan Tanya Jawab Terhadap Peningkatan Prestasi Belajar Mata Pelajaran IPS Terpadu Kelas VI
  125. Peranan Motivasi Guru Dalam Penggunaan Alat Olahraga Untuk Meningkatkan Prestasi Siswa
  126. Peranan Penggunaan Metode Ceramah Dan Tanya Jawab Terhadap Peningkatan Prestasi Belajar Mata Pelajaran IPS Terpadu Kelas VI
  127. Pengaruh Perilaku Anak Yang Menyimpang Terhadap Keberhasilan Proses Pembelajaran Di SD
  128. Efektivitas Pembelajaran Bahasa Dengan Pendekatan Komunikatif
  129. Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Bahasa Indonesia Dengan Pendekatan Terpadu Siswa Kelas II
  130. Peranan Kewibawaan Guru Dalam Meningkatkan Kedisplinan Kelas
  131. Upaya Meningkatkan Minat Belajar Ppkn Dengan Kbk Pada Siswa Kelas IV SD
  132. Upaya Peningkatan Efektivitas Pembelajaran Bahasa Inggris Sebagai Pelajaran Muatan Lokal
  133. Melalui Perpustakaan Dapat Meningkatkan Belajar Bagi Siswa Di Kelas IV
  134. Peranan Alat Peraga Terhadap Peningkatan Minat Belajar Matematika
  135. Peningkatan Prestasi Belajar Matematika Melalui Penggunaan MediaPengajaran (Alat Peraga)
  136. Upaya Meningkatkan Keaktifan Belajar Matematika Pada Anak Kelas V SD Melalui Metode Inkuiri
  137. Upaya Peningkatan Kreativitas Siswa Kelas IV SD Dalam Pembelajaran IPA Dengan Metode Diskoveri-Inkuiri
  138. Upaya Keaktifan Siswa Belajar IPA Kelas IV SD Melalui Pendekatan Ketrampilan Proses
  139. Meningkatkan Gairah Belajar Siswa Dalam Pembelajaran IPS Dengan Menggunakan Media Gambar
  140. Upaya Meningkatkan Kemampuan Menulis Karangan Bahasa Indonesia Siswa Kelas IV SD melalui Penggunaan Media Gambar Seri
  141. Pembelajaran Bahasa Terpadau Dapat Meningkatkan Kemampuan Berbsa Siswa SD Di Kelas 2
  142. Upaya Meningkatkan Motivasi Kemampuan Berbicara Siswa Melalui Metode Diskusi Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas V
  143. Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Ipa Melalui Metode Quantum Teaching
  144. Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Dengan Pemberian Penguatan
  145. Upaya Meningkatkan Daya Kreativitas Pada Anak Sd Melalui Metode Pemberian Tugas
  146. Upaya Meningkatkan Ketrampilan Menulis Lanjut Melalui Media Gambar
  147. Upaya Menimbulkan Keantusiasan Siswa Dalam Pembelajaran Apresiasi Sastra Indonesia Di SD Melalui Metode Quantum
  148. Upaya Meningkatkan Penerapan Konsep Pelajaran PPKn Melalui Model Pembelajaran Berbasis Portofolio Dengan Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat
  149. Upaya Menimbulkan Keantusiasan Siswa Dalam Pembelajaran Apresiasi Sastra Indonesia Di SD Melalui Metode Quantum
  150. Upaya Mengatasi Kenakalan Anak Yang Mencari Perhatian Di Kelas II SD Dengan Bimbingan Moral
  151. Upaya Meningkatkan Minat Siswa Belajar Ekonomi Melalui Metode Pemberian Tugas Terstruktur Prapembelajaran
  152. Upaya Meningkatkan Keaktifan Belajar Ipa Dengan Pendekatan Ketrampilan Proses Di SD
  153. Upaya Meningkatkan Minat Siswa Terhadap Pelajaran Matematika Melalui Pendekatan Cooperative Learning
  154. Upaya Meningkatkan Kemampuan Mengungkapkan Pendapat Dalam Pelajaran Bahasa Indonesia Dengan Metode Diskusi Pada Siswa Kelas IV SD
  155. Upaya Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Ipa Melalui Pendekatan Ketrampilan Proses
  156. Upaya Meningkatkan Ketrampilan Berbahasa Lisan Siswa Kelas V SD Menggunakan Metode Diskusi
  157. Upaya Meningkatkan Pemahaman Siswa Melalui Cara Repetitif Atau Pengulangan Dalam Pelajaran Matematika
  158. Melalui Alat Peraga Gambar Untuk Meningkatkan Minat Belajar Membaca Permulaan Siswa Kelas II SD
  159. Upaya Meningkatkan Belajar Mengajar Yang Efektif Dalam Pembelajaran IPA Di Kelas VI Dengan Sistem Cara Belajar Siswa Aktif
  160. Upaya Meningkatkan Ketrampilan Menulis Siswa Di Kelas V SD Melalui Pembelajaran Holistik
  161. Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Melalui Pemberian Penguatan
  162. Upaya Guru Untuk Meningkatkan Kemampuan Mengarang Dengan Media Gambar seri
  163. Pengembangan Model Keterampilan Proses Berbasis Kompetensi untuk Meningkatkan Kualitas Proses dan Produk Pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar
  164. Peningkatan Penguasaan EYD Karangan Narasi dengan Teknik Koreksi Teman Sebaya Siswa Kelas VI SD …
  165. Upaya Meningkatkan Pencapaian Kompetensi Dasar Pelajaran PKPS melalui Program Pembiasaan Siswa Kelas IV SD Negeri ….Tahun Pelajaran 2006/2007
  166. Peningkatan Kemampuan Mengapresiasi Unsur Instrinsik Dongeng Melalui Teknik Bercerita Siswa Kelas 5 SD Negeri ….
  167. Upaya Meningkatkan Hasil Belajar IPA/Sains Siswa Kelas IV dengan Pendekatan Kontekstual pada Sekolah Dasar Negeri ….
  168. Meningkatkan Kemampuan Siswa Kelas VI SD … dalam Menyelesaikan Soal Matematika Berbentuk Cerita Melalui Pendekatan Matematika Realistik
  169. Upaya Pengembangan Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Raklin dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa SD Negeri ….
  170. Pembelajaran Sain Berbasis Proyek (Project Based Learning) untuk Meningkatkan Academic Skill Siswa MI ….
  171. Peningkatan Image Anak tentang Tempat-Tempat Jauh (Hubungannya dengan Kehidupan Manusia dan Lingkungan) melalui Media Gambar dan Group Discussion di SDN …
  172. Pengembangan Model Pembelajaran Matematika Realistik untuk Meningkatkan Aktifitas dan Hasil Belajar Siswa Kelas IV SDN ….
  173. Upaya Meningkatkan Keaktifan dan Tanggungjawab Siswa dalam Proses Pembelajaran PKn Melalui Penggunaan Metode Cooperative Learning Model Jigsaw di SMP N….
  174. Pembelajaran di Luar Kelas dengan Pendekatan Pemecahan Masalah Bersama untuk Meningkatkan Motivasi Belajar dan Pemahaman Konsep Lingkungan Siswa Kelas III SD….
  175. Model Penemuan dan Pemecahan Masalah dengan Pendekatan Realistik pada Pembelajaran Matematika di SD…. Tahun Pelajaran 2005/2006
  176. Peningkatan Kualitas Pembelajaran IPA Menggunakan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM) pada Siswa Kelas 5 SD Negeri …
  177. Penerapan Metode Permainan untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Matematika pada Siswa Kelas II Sekolah Dasar Negeri …
  178. Upaya Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Matematika dengan Menerapkan Pendekatan Realistik Matematik di SDN ….
  179. Efektivitas Pendekatan Cooperative Learning dalam Meningkatkan Hasil IPA di SDN …
  180. Pembelajaran Bangun Ruang Secara Konstruktivis dengan Menggunakan Alat Peraga di Kelas V SD Negeri ….
  181. Aplikasi Pembelajaran Kolaboratif Berbasis Asesmen Autentik untuk Meningkatkan Pembelajaran PSKn Kelas IV di SD…..
  182. Peningkatan Keterampilan Berbicara Bahasa Inggris melalui Pendekatan Proses Membaca dalam Membaca Cerita di Kelas 3 SD Negeri ….
  183. Pembelajaran Kontekstual dengan Metode Inkuiri untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir, Hasil dan Motivasi Belajar IPA pada Siswa Kelas V ….
  184. Penggunaan Media Cerita Bergambar Berbasis Pendekatan Komunikasi Total untuk Meningkatkan Kemampuan Bahasa Anak Tunarungu Kelas Rendah di SLB Bagian
  185. Penerapan Pembelajaran Berdasarkan Masalah dengan Strategi Kooperatif Model STAD pada Mata Pelajaran Sains untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas V MI ….
  186. mplementasi Konseling Perkembangan dalam Pembelajaran sebagai Model Pembiasaan Perilaku Belajar Siswa SD Negeri …
  187. Upaya Meningkatkan Pemahaman Siswa pada Materi FPB dan KPK dengan Mendayagunakan Alat Peraga dan Serangkaian Pertanyaan Kognitif di SD …
  188. Peningkatan Kualitas Pembelajaran Apresiasi Sastra pada Mata Pelajaran Bahasa Daerah di Kelas 7 SMPN ….
  189. Pembelajaran Konstruktivisme dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Pemahaman Siswa Kelas III Madrasah Ibtidaiyah Darul Ulum
  190. Peningkatan Efektifitas Pembelajaran Anak Autis melalui Implementasi Pendekatan Individualized Education Program (IEP) di SDN Inklusif ….
  191. Peningkatan Hasil Belajar Pengetahuan Sosial melalui Pembelajaran Kontekstual Model Berkemah dan Media Pembelajaran Lingkungan di SD
  192. Penerapan Perangkat Pembelajaran Inovatif dalam rangka Peningkatan Penguasaan Keterampilan Proses Sains pada Siswa Kelas IV Sekolah Dasar…
  193. Penggunaan Buku Bergambar untuk Meningkatkan Keterampilan Membaca Cerita Siswa Kelas II SDN ….
  194. Upaya Peningkatan Keterampilan Berbicara Siswa SD Kelas V dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia dengan Pendekatan Cooperative Learning
  195. Perbaikan Teknik Menyanyikan Nada-nada Melodi melalui Teknologi MIDI di SD Negeri
  196. Pengembangan Strategi Pembelajaran Menulis dengan Model Menulis Proses dan Penilaian Portofolio di Sekolah Dasar ….
  197. Peningkatan Prestasi Belajar Membaca Menulis Permulaan Anak Berkesulitan Belajar Melalui Strategi Pembelajaran Kooperatif dengan Metode VAKT
  198. Peningkatan Kualitas Pembelajaran Gejala-Gejala Alam dengan Menggunakan Media Pembelajaran Mock Up di Sekolah Dasar Negeri ….
  199. Optimalisasi Penggunaan Asesmen Otentik untuk Meningkatkan Kerja Ilmiah Siswa pada Pembelajaran Sains di SDN ….
  200. Dramatisasi Cerita Bergambar untuk Mengembangkan Kompetensi Dasar Berekspresi Sastra di Sekolah Dasar
  201. Pemberdayaan Lingkungan sebagai Sumber Belajar dalam Upaya Meningkatkan Kompetensi Berbahasa Indonesia Siswa Kelas 4SD
  202. Peningkatan Partisipasi Siswa dengan Model Inkuiri Berbasis CTL (Contextual Teaching
  203. Penerapan Teori Bruner untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa SD terhadap Konsep Keliling dan Luas Daerah Bangun Datar
  204. Peningkatan Keaktifan dan Prestasi Belajar Pendidikan Kewarganegaraan melalui Penerapan Strategi Inkuiri pada Siswa Kelas III SD Negeri semester 2 Tahun Pelajaran 2007/2008
  205. Penerapan Metode Investigasi Kelompok Untuk Meningkatkan Motivasi Dan Prestasi Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Pada Siswa Kelas III SD Negeri …. Semester Genap Tahun Pelajaran 2006/2007
  206. Meningkatkan Prestasi Belajar IPA Melalui Penerapan Penilaian Otentik Dengan Strategi FIKIR Pada Kelas III SD Negeri ….
  207. Efektivitas Penggunaan Metode Role Playing Pada Pembelajaran IPA pada siswa kelas III SD Negeri ….
  208. Mengatasi Emosional Sensitif Siswa Melalui Pembimbingan Secara Intesif pada Siswa Kelas III SD Negeri ….
  209. Peningkatan Prestasi Belajar matematika pada Materi Perkalian dan Pembagian melalui Metode Snowball Trowing siswa kelas IIISD
  210. Efektifitas Pendekatan Pemecahan Masalah melalui Tugas Terstruktur terhadap Prestasi Belajar Matematika di Kelas III SD Negeri
  211. Efektifitas Strategi Pembelajaran Kooperatif Model Make-a match atau mencari pasangan dalam Meningkatkan prestasi belajar pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas SD Negeri ….
  212. Pengaruh Kemampuan Micara dengan Kemampuan Nulis Lapuran pada Siswa Kelas V SD Negeri….
  213. Meningkatkan Kemampuan Nulis Karangan Argumentasi melalui Media Gambar Seri pada Siswa Kelas V SD Negeri ….
  214. Meningkatkan Prestasi Belajar Nulis Layang Kiriman melalui Teknik Modeling pada Siswa Kelas V SD Negeri ….
  215. Efektifitas Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Model Stad Dalam Meningkatkan Kemampuan Micara Pada Siswa Kelas V Sd Negeri….
  216. Upaya Meningkatkan Minat Belajar Dan Kemampuan Memahami Teks “Wacan Crita Wayang” Melalui Media Gambar Wayang Pada Siswa Kelas V Sd Negeri…
  217. Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Konsep Penjumlahan dengan Media Roda Angka pada Siswa Tuna Rungu di SLB Negeri …
  218. Meningkatkan Kosa Kata Bahasa Indonesia Bagi Anak Tuna Rungu Melalui Permainan Kartu Identifikasi
  219. Mengatasi Kelangkaan Buku Brail dengan Teknik Audio Compress Melalui Media HP/MP4 Player
  220. Upaya Pembentukan Kelompok Bunyi Bahasa ?NG/VK/G/ Melalui Rangsangan Air dan Madu Bagi Siswa Kelas D1/B SLB
  221. Rancang Bangun Alat Peraga Pembelajaran Timbangan Angka untuk Menanamkan Konsep Matematika Penjumlahan Bagi Anak Tuna Grahita
  222. Meningkatkan Kemampuan Dasar Anak Kanak-Kanak Tuna Netra dengan Kotak Cerita di SLB A Pembina …
  223. Kalender Kegiatan Sebagai Alat Bantu Mengembangkan Kemampuan Dasar,Disiplin dan Mengorganisasikan Pembagian Waktu bagi Anak TK Tuna Netra di SLB A …
  224. Pembelajaran Penjumlahan,Pengurangan,Perkalian,Pembagian,Menggunakan Sedotan (Drinking Straws) dan Kantong Operasi Hitung pada Kelas 2 SD dengan Pendekatan Pakempros
  225. Kembang Kamboja Untuk Pembelajaran Grafik
  226. Penggunaan Bilah Bambu dan Prisma Berbunyi Efektif Untuk Menanamkan Konsep Faktor Persekutuan Terbesar
  227. Inovasi Pembelajaran Tematik Berbasis Multiple Intellegensia Kelas 1 SD
  228. Pendekatan CTL Dengan Model Linked Courses Plus dalam Meningkatkan Pencapaian Kompetensi dan Motivasi Belajar Siswa Kelas 1 SD
  229. Pendekatan Metode Pembelajaran Bermain,Menarik dan Menyenangkan Sebagai Upaya Meningkatkan Ketrampilan Gerak Dasar Siswa Kelas 3 SD …
  230. Menumbuhkan Sikap Demokratis Siswa Kelas V SD Negeri ,… Melalui Permainan Simulasi dengan Media Papan Kartu dan Kartu Beberan
  231. Tiang Serba Guna Sebagai Penunjang Proses Belajar Mengajar (PBM) Pendidikan Jasmani dan Olahraga di SD
  232. Permainan “Katak Loncat” Sebagai Sarana Efektif Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD
  233. Penggunaan Media Dus Warna Untuk Meningkatkan Hasil Pembelajaran Matematika Penjumlahan Bilangan Bulat Positif dengan Negatif dan Sebaliknya (Action Reseach) di Kelas V SDN ….
  234. Efektivitas Model Pe,belajaran Lingkungan pada Pembelajaran IPA di Kelas IV SD…
  235. Proses Penentuan Arah Kiblat Oleh Siswa SDN ….
  236. Pembelajaran IPS Melalui Permainan dan Display
  237. Integrated-Lesson dalam Pembelajaran Bahasa Inggris dengan Menggunakan Teatrical Aproach
  238. Pembelajaran Berbasis Proyek Upaya Inovatif Untuk Mengembangkan Kemampuan Berpikir Terpadu Pada Siswa di SD
  239. Upaya Peningkatan Kemampuan Peserta Didik Dalam Membaca dan Menulis Permulaan dengan Pendekatan Tematik Menggunakan Alat Peraga Kolam Ilmu
  240. Peningkatan Hasil Belajar Terhadap Sifat-Sifat Zat Cair dengan Menggunakan Metode Sulap Melalui Kegiatan Science Fair
  241. Penerapan Pembelajaran Tematik Untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Teknologi Bagi Siswa Kelas III SDN ….
  242. Simbol Auto Sugesti Menggunakan “HERBARIUM”
  243. Implementasi Pendekatan CTL (Contextual Teaching and Learning ) Dalam Pengenalan Huruf Hijaiyah Melalui Game Sebagai Upaya Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa Kelas II SDN….
  244. Peningkatan Partisipasi Siswa dalam Pembelajaran
  245. Peningkatan Kemampuan dalam Bernyanyi Melalui Pola Latihan Mulut Kita Adalah Musik di Kelas VI SDN …
  246. Pendekatan Permainan Membaca Melalui Model Pembelajaran Bermain di Lingkungan (Inside-Outside-Circle ) Sebagai Alat Alternatif Untuk Pengembangan Kemampuan Berbahasa Pada Anak Usia Dini di Taman Kanak- Kanak (Tahap Awal Membaca Permulaan )
  247. Pengembangan Teknik Bercerita Melalui Pemanfaatan Media Magnet di Taman Kanak-Kanak
  248. Modifikasi Metode Gleen Doman untuk Pelajaran Membaca di Taman Kanak – Kanak
  249. Permainan Tanggap Huruf Upaya Meletakkan Konsep Dasar Membaca di Taman Kanak-Kanak
  250. Penerapan Teori Multiple Intellegence dalam Mengenal Konsep Ukuran Besar Kecil pada Siswa Pra Sekolah
  251. Kontribusi Kegiatan “ Aku Petugas Bank Mungil” dalam Upaya Menumbuhkan Minat Menabung Anak Sejak Dini di TK
  252. Pembentukan Perilaku Anak Melalui Pembiasaan Berbicara dengan Suara yang Ramah dan Teratur (Tidak Teriak) dengan Cerita di TK
  253. Upaya Membantu Anak yang Mengalami Kesulitan Membuat Bentuk Huruf,Bentuk Baris dan Bangun Geometri Melalui Media Dengan Indra Sentuhan pada Punggung Anak pada Anak Kelompok B2
  254. Bermain Pasar – Pasaran Metode Atraktif dan Efektif Untuk Mengenalkan Ukuran yang Menyenangkan di Taman Kanak- Kanak
  255. Integrasi Outdor Learning dan Indoor Learning dalam Meningkatkan Kemandirian di TK
  256. Peningkatan Ketrampilan Berbicara Bahasa Inggris Melalui Pendekatan Proses Membaca dalam Membaca Cerita di Kelas 3 SD …
  257. Peningkatan Kemampuan Berbicara melalui Teknik Tell Me What You See I Pada Sisswa Kelas V SD Negeri…
  258. Meningkatkan Kemampuan Siswa Kelas VI SD Negeri ….Dalam Menyelesaikan Soal Matematika Berbentuk cerita Melalui Pendekatan Matematika Realistik
  259. Penerapan Metode Permainan Untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajran Matematika Pada Siswa Kelas II SD Negeri …
  260. Upaya Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Matematika dengan Menerapkan Pendekatan Realistik Matematika di SD …
  261. Pembelajaran Bangun Ruang Secara Kontruktivis dengan Menggunakan Alat Peraga di Kelas V SD Negeri…
  262. Peningkatan Penguasaan EYD Karangan Narasi dengan Teknik Koreksi Teman Sebaya Siswa Kelas VI SD …
  263. Pembelajaran Kontruktivisme dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Pemahaman Siswa Kelas III Madrasah ….
  264. Penggunaan Buku Bergambar Untuk Meningkatkan Ketrampilan Membaca Cerita Siswa Kelas II SDN …
  265. Upaya Peningkatan Ketrampilan Berbicara Siswa SD Kelas V dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia dengan Pendekatan Cooperatif Learning
  266. Peningkatan Pembelajaran Menulis Dengan Pendekatan Proses dan Media Gambar di Kelas II SDN…
  267. Pengembangan Strategi Pembelajaran Menulis dengan Model Menulis Proses dan Penilaian Portofolio di Sekolah Dasar …
  268. Peningkatan Prestasi Belajar MembacaMenulis Permulaan Anak berkesulitan Belajar Melalui Strategi Pembelajaran Kooperatif dengan Metode VAKT di SD
  269. Dramatisasi Cerita Bergambar untuk Mengembangkan Kompetensi Dasar Berekspresi Sastra di Sekolah Dasar
  270. Peningkatan Kemampuan Mengapresiasi Unsur Instrinsik dengan Melalui Teknik Bercerita Siswa Kelas V SDN 4 ….  
  271. Implementasi Strateg 5 E dengan Bahan Ajar Bermuatan Perubahan Konseptual sebagai Upaya Mengubah Miskonsepsi ,dan Meningkatkan Hasil Belajar Siswa SMPN…. 
  272. Pemberdayaan Prior Experience dalam Pembelajaran Modul Praktikum dengan Model Rxperential Learning Sebagai Upaya Meningkatkan Kompetensi Sains Siswa SMPN….
  273. Peningkatan Daya Berpikir Kritis Siswa Terhadap Kondisi Lingkungan melalui Penggunaan Peta Konsep Pada Pembelajaran di Kelas VII SMP….
  274. Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Pokok Bahasan Sistem Gerak Melalui Penerapan Strategi Concept Mapping Pada Kelas VIII SMPN….
  275. Penerapan Kegiatan Hands on Activy dan Modifed Discovery Inkuiri pada Mata Pelajaran Biologi untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Kelas VII SMP….
  276. Meningkatkan Pemahaman Siswa SMPN ….Tentang Kesebangunan dengan Penemuan Terbimbing (Guide Discovery )
  277. Mengatasi Miskonsepsi Siswa Kelas IX SMPN…Pada Materi Ajar Listrik Dinamis dengan Menerapkan Teknik Pemodelan dalam Setting Pembelajaran Generatif
  278. Peningkatan Peran Aktif dan Motivasi Belajar Siswa SMP… melalui Pendekatan Ketrampilan Proses dengan Metode Discovery 
  279. Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri dalam Rangka Meningkatkan Penguasaan Konsep Siswa dan Ketrampilan Siswa dalam Penemuan Konsep secara Mandiri di SMPN….
  280. Penerapan Pembelajaran Kontekstual Untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Fisika Siswa SMP….
  281. Peningkatan Ketrampilan Berbahasa Membaca Siswa Kelas VII B SMPN…Melalui Model Pembelajaran PBL Teknik Bercerita
  282. Peningkatan Kemampuan Membawakan Acara dalam Aktivitas Pembelajaran Berbicara dengan Pendekatan Study Siswa Kelas VIII SMPN…
  283. Penguasaan Materi Bentang Alam dan Bentang Budaya Melalui Optimalisasi Media Peta pada Pembelajaran Geografi di SMPN….
  284. Penerapan Pembelajaran Fisika E Learning Circle Model Untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa Kelas VII SMPNPeningkatan Kemampuan Menggunakan Kata Konotatif dalam Paragraf dengan Strategi Aktif Siswa Kelas VII SMP…
  285. Peningkatan Kemampuan Siswa dalam Pemecahan Masalah Pribadi Melalui Pemahaman Diri Pada Siswa Kelas IX ….
  286. Peningkatan Hasil Belajar Matematika Materi Bangun Datar Segi Empat Melalui Penerapan Model Pembelajaran Partisipatif Siswa Kelas VII SMPN…
  287. Peningkatan Hasil Belajar Siswa Kelas IX SMPN…dengan Menggunakan Media Peta
  288. Penggunaan Metode Bermain Peran Pada Pembelajaran Sejarah Islam Untuk Meningkatkan Penghayatan Terhadap Ajaran Agama Islam dalam Kehidupan Sehari – Hari Siswa Kelas VIII SMPN…
  289. Peningkatan Kemampuan Siswa Kelas IX SMPN…dalam Memahami bacaan Bahasa Inggris melalui Deducing Meaning From Context
  290. Peningkatan Kemampuan Mengembangkan Gagasan dalam Wacana Narasi dengan Strategi Menulis Terbimbing Siswa Kelas VII SMPN…
  291.  Pemanfaatan Media Televisi Untuk Meningkatkan Aktivitas dan Kemampuan Berbicara Siswa Kelas IX B SMPN…
  292. Pembelajaran Apresiasi Cerpen Melalui Pendekatan Interaksi Dinamis Siswa Kelas VIII SMPN..
  293. Implementasi Tutor Sebaya Untuk Meningkatkan Aktivitas dan Prestasi Belajar Tari Siswa Kelas VII D SMPN …
  294. Independensi Studi Melalui Metode Penugasan dan Diskusi Model Pembelajaran KOnstruktivis Siswa SMPN…
  295. Peningkatan Ketrampilan Membaca Siswa Kelas VII Siswa SMPN… Melalui Model Pembelajaran PBL Teknik Bercerita
  296. Peningkatan Kemampuan Siswa Menerapkan Konsep Matematika Melalui Pemberian Tugas Problem Posing Secara Berkelompok
  297. Cooperatif Integratde Reading and Compusition Sebuah Alternatif Meningkatkan Reading Skill Kelas VII E SMPN…
  298. Upaya Peningkatan Ketrampilan Menyimak Pidato dan Ceramah Siswa Dengan Menggunakan Teknik Kata Kunci
  299. Peningkatan Motivasi dan Keaktifan Siswa dalam Pelajaran Fisika dengan Pendekatan Science,Tecknologi and Society
  300. Pelibatan Siswa dalam Pembuatan Model Pencernaan Sebagai Strategi Peningkatan Aktivitas Belajar Biologi Siswa
  301. Peningkatan Kemampuan Pemahaman Konsep Reproduksi Siswa Kelas VIII SMPN…dengan Model Simulasi Bertingkat
  302. Model Role Playing Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas VIII SMPN…
  303. Peningkatan Apresiasi Cerpen Siswa Kelas VII SMPN…Melalui Analisis Unsur-Unsur Instrinsik
  304. Peningkatan Pemahaman Siswa Kelas IX SMPN…Terhadap Pembelajaran Kelangsungan Hidup Organisme Melalui Pendekatan Inkuiri Terpimpin
  305. Picture Series Sebagai Sarana Meningkatkan Kemampuan Writing Siswa Kelas IX
  306. Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Pemberian Pekerjaan dengan Tingkat Kesulitan Berjenjang
  307. Upaya Peningkatan Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita Yang Berkaitan dengan Kehidupan Sehari-Hari Siswa Kelas IX SMPN…
  308. Peningkatan Motivasi Belajar Geografi Siswa Kelas VII SMP…Melalui Program ABC
  309. Upaya Peningkatan Hasil Belajar Fisika Siswa Kelas IX SMPN…Melalui Tugas Membuat Kesimpulan Dengan Kartu
  310. Peningkatan Pemahaman Konsep Hukum Bacaan Nun Mati dan Tanwin Melalui Penerapan Pembelajaran Kontekstual Siswa Kelas VII SMPN…
  311. Peningkatan Kemampuan Siswa dalam Belajar Sejarah dengan Media Bola Sejarah
  312. Upaya Peningkatan Kemampuan Menulis Cerpen Siswa SMPN… dengan Menggunakan Peta Kunci Wacana
  313. Upaya Meningkatkan Apresiasi Sastra Jawa Pengenalan Tokoh Wayang dengan Cara Permainan Dalang Sebagai Pancadan Siswa Kelas IX SMPN…

Kisi-Kisi UN (Ujian Nasional) SMP Tahun Pelajaran 2017/2018

21.32 Add Comment
UN SMP sudah tinggal menghitung hari, kita sebagai guru maupun siswa harus segera menyiapkan diri sebaik-baiknya. untuk Surat Edaran Badan Standar Nasional Pendidikan Nomor 0080/SDAR/BSNP/VIII/2017 tentang Kisi-Kisi USBN dan UN Tahun Pelajaran 2017/2018 silakan download di sini
Adapun Kisi-Kisi UN (Ujian Nasional) SMP Tahun Pelajaran 2017/2018 adalah sebagai berikut :

Untuk Download Kisi-Kisi UN (Ujian Nasional) SMP Tahun Pelajaran 2017/2018, Silakan Download di pada link berikut ini

Konsep Ruang

08.49 Add Comment
Memahami konsep ruang (lokasi, distribusi, potensi, iklim, bentuk muka bumi, geologis, flora, dan fauna) dan interaksi antarruang di Indonesia  serta pengaruhnya  terhadap kehidupan manusia dalam aspek ekonomi, sosial, budaya, dan  pendidikan

A. Konsep Ruang

1. Pengertian Ruang

Ruang adalah tempat yang memberikan kita hidup karena di dalamnya terdapat unsur-unsur yang diperlukan untuk kehidupan. Karena itu, menurut istilah geografi umum yang dimaksud dengan ruang (space) adalah seluruh permukaan bumi yang merupakan lapisan biosfera tempat hidup tumbuhan, binatang, dan manusia. Sedangkan menurut istilah geografi regional bahwa ruang adalah suatu wilayah yang mempunyai batasan geografi, yaitu batas menurut keadaan fisik, sosial, atau pemerintahan yang terjadi dari sebagian permukaan bumi dan lapisan tanah dibawahnya, serta lapisan udara di atasnya. Menurut Sumaatmadja, mengatakan bahwa wujud ruang dipermukaan

bumi berbentuk tiga dimensi, bentangannya berupa daratan dan perairan, sedangkan kearah vertikal berupa lapisan udara, dalam ruang ini berlokasi benda hidup dan benda mati serta gejala-gejala yang satu sama lainnya beriteraksi.



Ilmu geografi sangat menekankan eksistensi ruang sebagai pendekatan kerangka analisisnya. Analisis keruangan (spatial) mempelajari perbedaan lokasi mengenai sifat – sifat penting atau serangkaian sifat-sifat penting. Ahli geografi akan bertanya faktor – faktor apa yang menguasai pola penyebaran dan bagaimanakah pola tersebut dapat diubah agar penyebarannya menjadi lebih efektif dan efisien. Dengan kata lain, dalam analisis keruangan harus diperhatikan adalah pertama, penyebaran penggunaan ruang yang telah ada dan kedua, penyediaan ruang yang akan digunakan atau dimanfaatkan untuk pelbagai kegunaan yang dirancang.

Eksisitensi ruang dalam perspektif geografi dapat dipandang dari struktur (spatial structure), pola (spatial pattern), dan proses (spatial processess) (Yunus, 1997). Dalam konteks fenomena keruangan terdapat perbedaan kenampakan strutkur, pola dan proses. Struktur keruangan berkenaan dengan dengan elemen-elemen pembentuk ruang. Elemen-elemen tersebut dapat disimpulkan dalam tiga bentuk utama, yaitu: (1) kenampakan titik (point features), (2) kenampakan garis (line features), dan (3) kenampakan bidang (areal features).

Kerangka kerja analisis pendekatan keruangan bertitik tolak pada permasalahan susunan elemen-elemen pembentuk ruang. Dalam analisis itu dilakukan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut.

What? Struktur ruang apa itu?
Where? Dimana struktur ruang tesebut berada?
When? Kapan struktur ruang tersebut terbentuk sperti itu?
Why? Mengapa struktur ruang terbentuk seperti itu?
How? Bagaimana proses terbentukknya struktur seperti itu?
Who suffers what dan who benefits whats? Bagaimana struktur
Keruangan tersebut didayagunakan sedemikian rupa untuk kepentingan manusia. Dampak positif dan negatif dari keberadaan ruang seperti itu selalu dikaitkan dengan kepentingan manusia pada saat ini dan akan datang.

Dalam melakukan pendekatan terhadap gejala dan masalah, geografi akan menggunakan pendekatan topik utama, biasanya mencari apa yang menjadi pusat perhatian manusia. Misalnya di daerah tertentu topik yang menjadi perhatian utama adalah kelaparan. Maka kelaparan inilah yang menjadi sorotan utamanya. Artinya dapat dijuga dikatakan ruang di mana kelaparan berlangsung.

Kelaparan di daerah yang bersangkutan diungkapkan jenis-jenisnya, sebab-sebabnya, penyebarannya, intensitasnya, dan interelasinya dengan gejala yang lain dan dengan masalah secara keseluruhan. Pokoknya hal-hal yang berkenaan dengan topik kelaparan harus diungkapkan sedalam-dalamnya, sehingga diperoleh deskripsi ruang geografi mengenai kelaparan tersebut.

Diharapkan bahwa pengungkapan topik kelaparan tadi berkenaan dengan penyebarannya, interelasinya, deskripsi dan sebab-sebabnya, dapat mengungkapkan masalah geografi di daerah bersangkutan secara lebih luas. Hal yang sama dapat pula dilakukan terhadap topik-topik lainnya, seperti pengangguran, erosi, kenakalan remaja, kekurangan air, industri, dan lain-lain sebagainya.

Yang menjadi pegangan utama dalam melakukan pendekatan topik ini yaitu bahwa tidak boleh dilepaskan hubungannya dengan ruang yang menjadi wadah gejala atau topik yang kita dekati. Faktor-faktor geografi seperti manusia dan keadaan fisisnya tidak boleh diabaikan. Berdasarkan landasan keruangan ini, kita akan dapat mengungkapkan karakteristik kelaparan di daerah/wilayah yang bersangkutan bila dibandingkan dengan gejala atau kelaparan di daerah/ wilayah yang lainnya.

Pada pendekatan keruangan lainnya, pendekatan utama diarahkan kepada aktivitas manusianya (human activities). Pertanyaan utama pada jenis pendekatan ini ialah bagaimana kegiatan manusia atau penduduk di suatu wilayah yang bersangkutan? Jadi, hal-hal yang berkenaan dengan aktivitas penduduk itu menjadi sorotan utama.

Pengungkapan aktivitas penduduk ini ditinjau dari penyebarannya, interelasinya, dan deskripsinya dengan gejala gejala lain yang berkenaan dengan aktivitas tadi. Ditinjau dan penyebarannya, kita akan dapat membedakan jenis aktivitas tadi sehubungan dengan matapencarian yang dilakukan penduduk. Apakah aktivitas itu berlangsung di daerah pegunungan, apakah di dataran rendah, apakah dekat dengan sungai, apakah jauh dan sungai, apakah di pantai, dan demikianlah seterusnya.

Dari penyebaran kegiatan penduduk tadi, kita akan dapat pula mengungkapkan interelasinya dengan keadaan kesuburan tanah, dengan keadaan hidrografi, dengan keadaan komunikasi-transportasi, dengan keadaan tinggi-rendah permukaan, dan dengan faktor-faktor geografi lainnya. Dengan demikian, kita akan dapat pula membuat suatu deskripsi tentang aktivitas penduduk tadi berdasarkan penyebarannya dalam ruang, dan berdasarkan interelasi keruangannya dengan gejala-gejala lain serta dengan masalah sebagai sistem keruangannya.

2. Ruang menurut ekologi

Ekologi khususnya ekologi manusia berkenaan dengan interelasi antara manusia dengan lingkungannya yang membentuk suatu sistem ekologi atau ekosistem. Prinsip dan konsep yang berlaku pada bidang ilmu ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan geografi dalam memandang aspek ruang. Menurut ekologi, ruang dipelajari, ditelaah dan dianalisis sebagai sesuatu gejala atau sesuatu masalah dengan menerapkan konsep dan prinsip ekologi.

Ruang menurut ekologi sebagai suatu bentuk ekosistem hasil hubungan dan penyesuaian antara penyebaran dan aktivitas manusia dengan lingkungannya pada area atau daerah tertentu. Jadi dalam hal ini, interelasi manusia dengan alam lingkungan di sekitarnya dikaji berdasarkan konsep dan prinsip ekologi, atau dengan perkataan lain dengan menggunakan pendekatan ekologi.

Sebagai sebuah ekosistem, suatu ruang dipandang atau diarahkan kepada hubungan antara manusia sebagai makhluk hidup dengan lingkungan alamnya. Pada pendekatan ekologi suatu daerah pemukiman ditinjau sebagai suatu bentuk ekosistem hasil interaksi penyebaran dan aktivitas manusia dengan lingkungan alamnya. Demikian pula jika kita mengkaji daerah pertanian, daerah perindustrian, daerah perkotaan dan lain-lain sebagainya.

Pendekatan ekologi pada studi geografi, bukan merupakan metode pendekatan satu-satunya. Pendekatan ekologi ini merupakan metode pendekatan pelengkap untuk melakukan pendekatan masalah yang tidak dapat didekati atau ditelaah oleh metodemetode lainnya.

3. Ruang menurut ilmu wilayah

Berdasarkan konsep pewilayahan, ruang permukaan bumi dibatasi oleh keadaan fisik, sosial, dan batas administrasi pemerintahan. Jika satu kesatuan alam permukaan bumi menunjukkan ciri-ciri yang relatif sama maka dinamakan sebagai ruang geografi (space). Ciri-ciri yang relatif sama tersebut misalnya seragam dalam hal keadaan fisik permukaannya, kebudayaan masyarakatnya mempunyai ciri yang khas, dan ruang tersebut menunjukkan suatu sistem kehidupan dalam keterikatan yang kentara. Ruang geografi yang memiliki ciri khas tertentu disebut wilayah (region).

Jadi apa bedanya antara ruang dan wilayah? Wilayah, sebagaimana yang telah dijelaskan, merupakan kesatuan alam yang seragam dan/atau kesatuan masyarakat dengan kebudayaan yang khas sehingga dapat dibedakan satu wilayah dengan wilayah yang lain. Penamaan wilayah yang bersangkutan tentunya bergantung pada satuan alam atau kesatuan budaya yang digunakan.

Dalam geografi, kesatuan wilayah dapat ditentukan berdasarkan pada sejumlah region. Contoh region (wilayah) yang dicirikan unsur fisik antara lain wilayah geologi (geological region), wilayah tubuh atau jenis tanah (soil region), wilayah vegetasi (vegetation region), dan lain-lain; sedangkan wilayah yang namanya didasarkan pada sosial-budaya manusia misalnya wilayah ekonomi, wilayah sejarah, wilayah perkotaan, wilayah perdesaan, dan lain-lain.

Suatu wilayah dapat ditentukan dalam ukuran yang luas tetapi dapat pula dalam ukuran yang lebih sempit tergantung dari kerincian dalam mengindentifikasi kesamaan atau keseragamannya. Contoh wilayah yang luas misalnya wilayah Asia Tenggara, Wilayah Eropa barat, Wilayah Amerika Latin, Wilayah Afrika Tengah, dan lain-lain. Wilayah yang disebutkan di atas masing-masing memiliki karakteristik yang khas. Relatif memiliki keseragaman budaya, keseragaman tingkat peradaban, dan lain-lain sehingga jika diperbandingkan antara wilayah yang satu dengan wilayah lainnya dapat dibedakan dengan jelas.

Dalam skala yang lebih kecil, ukuran wilayah dapat pula ditentukan. Di Pulau Jawa memiliki wilayah-wilayah yang dapat dibedakan baik secara fisik maupun sosialbudaya masyarakatnya. Secara fisik misalnya ada wilayah geologi Banten, wilayah geologi Zone Bandung, dan lain-lain. Secara sosial-budaya kita juga mengenal adanya wilayah Pantura (Pantai Utara Jawa), wilayah Kebudayaan Pasundan, Wilayah Kesultanan Yogyakarta, dan lain-lain. Pewilayahan macam itu disebut pewilayahan secara formal (formal region) karena mengidentifikasi wilayah dengan menunjukkan objek-objek yang ada pada wilayah tersebut.

Tidak semua wilayah dapat digambar pada peta tematik dengan tegas, karena mengalami kesulitan dalam menarik garis yang sebenarnya. Contohnya wilayah Pantura, merupakan wilayah yang relatif sulit ditentukan karena batas wilayah Pantai Utara Jawa tidak seluruhnya memiliki ciri yang seragam atau homogen. Wilayah Pantura hanya didasarkan pada suatu daerah yang dilalui oleh jalan raya yang “kebetulan” menelusuri tepian pantai utara Pulau Jawa. Istilah wilayah Pantai Utara Jawa menjadi sangat terkenal pada saat lebaran (Hari Raya keagamaan) yang mudik memanfaatkan jalur jalan yang membentang dari Jakarta hingga Surabaya.

Karena banyak orang yang mengalami kesulitan dalam penentuan batas wilayah, maka umumnya akan diidentifikasi pada fungsi tertentu yang kemudian dikenal dengan istilah kawasan. Kawasan industri artinya suatu wilayah yang difungsikan atau dimanfaatkan untuk pengembangan sejumlah industri. Kawasan perdesaan adalah wilayah yang mempunyai kawasan perkampungan, pertanian, kehitanan, dan lain-lain.

Selain wilayah formal, ada pula yang disebut wilayah fungsional (functional region) atau wilayah nodus yaitu suatu bagian dari permukaan bumi, di mana beberapa keadaan alam yang berlawanan memungkinkan timbulnya bermacam-macam kegiatan, yang hasilnya berbeda dan saling mengisi dalam keperluan kehidupan manusia, karena itu sering pula disebut wilayah organik.

Contoh wilayah fungsional misalnya di suatu wilayah lereng pada sebuah gunung mulai dari lereng atas sampai dengan lereng kaki, disambung dengan daerah dataran rendah hingga akhiurnya ke tepi sebuah pantai. Penduduk di lereng atas hidup dari kehutanan, penduduk di lereng di bawahnya hidup dari perkebunan, penduduk di lereng bawah hidup dari pertanian, penduduk yang berada di dataran mungkin perkotaan dan hidup dari usaha pelayanan jasa, sedangkan penduduk yang berada di tepian laut hidup sebagai nelayan.

Di antara mereka saling membutuhkan dan mengisi kekurangan masing-masing. Untuk memenuhi kebutuhan hidunya nelayan akan “menyumbangkan” lauk pauk ikan laut sedangkan dari petani akan membantu beras untuk dimasak menjadi nasi. Kira-kira orang dari daerah pegunungan yang memiliki sayuran akan menyumbangkan apa?

Dalam wilayah fungsional, semua komponen dapat diperhitungkan peranan dan hubungan kegiatan antara komponen tersebut. Wilayah formal sebagaimana telah dijelaskan di atas dapat disebut “wilayah fungsional” asalkan komponen yang berada dalam wilayah tersebut diperhitungkan keterkaitan dan perannya masing-masing. Karena itu dalam wilayah fungsional, hal yang khas dari ciri wilayah bukan didasarkan atas keseragaman atau kesamaannya (sebagaimana pada wilayah formal) tetapi dalam wilayah fungsional; beberapa kegiatan yang berbeda menjadi komponen-komponen yang menciptakan suatu sistem kehidupan wilayah fungsional yang menciptakan suatu sistem kehidupan wilayah fungsional. Kehidupan kota adalah wilayah fungsional karena kota tidak dapat “hidup” tanpa ada daerah hinterland-nya (wilayah belakang yang menyediakan hasil-hasil pertanian).

Menurut Jayadinata (1999), adanya wilayah formal dan fungsional dapat memudahkan bagi para perencana untuk melakukan pendekatan dalam mengembangan wilayah tersebut. Berdasarkan pembedaan wilayah tersebut, dalam perencanaan wilayah dibagi dua pendekatan yaitu:

Pendekatan teritorial, untuk perencanaan suatu wilayah formal. Perencanaan wilayah macam ini memperhitungkan mobilisasi terpadu dari semua sumber daya manusia dan sumberdaya alam dari suatu wilayah tertentu yang dicirikan oleh perkembangan sejarahnya. Sejarah dijadikan salah satu faktor yang mengikat antar anggota masyarakat sehingga membentuk wilayah terirorial tertentu. Perencanaan wilayah teritorial atau formal diarahkan untuk peningkatan perkembangan untuk melayani aspirasi dan kebutuhan masyarakat yang berada di dalamnya. Perluasan wilayah dalam pengembangan wilayah formal akan dibatasi oleh batas wilayah lain yang berbatasan.

Pendekatan fungsional, yaiu suatu perencanaan yang memperhitungkan lokasi berbagai kegiatan ekonomi dan pengaturan secara ruang dari sistem perkotaan mengenai berbagai pusat dan jaringan. Dalam perencanaan akan dikembangkan model-model perencanaan seperti model gravitasi, analisis masukan-keluaran, pusat pertumbuhan, dan lain-lain. Perluasan wilayah fungsional memperhitungkan dan mengambil manfaat dari keadaan wilayah lain yang berbatasan dalam interaksi dan memenuhi kebutuhan yang tidak dimiliki oleh masing-masing wilayah bersangkutan.

Akhirnya dari masing-masing pengertian tentang ruang ternyata memiliki fungsi yang berbeda-beda, walauapun pada akhirnya memiliki tujuan yang sama yaitu untuk diklasifikasikan sesuai fungsinya sehingga dapat dilakukan pengaturan ruang agar lebih nyaman, berguna, dan dapat berkelanjutan.

B. Konsep Tempat

1. Tempat sebagai suatu konsep yang terikat pada suatu lokasi dalam ruang

Dalam geografi, tempat yang diartikan sebagai suatu lokasi dalam ruang (permukaan bumi) akan diikatkan pada suatu titik koordinat berdasarkan titik lintang dan bujur dalam tata koordinat bumi. Misalnya, suatu tempat yang terletak di titik 7°14’ Bujur Timur dan 4°11’ Lintang Selatan. Dengan mengetahui titik ikat tersebut maka akan mudah mencarinya dalam peta. Indonesia juga mudah kita cari di permukaan bumi pada saat mengetahui tempatnya berdasarkan lokasi atau koordinat bumi.

Konsep tempat ada dua yaitu tempat yang mutlak dan tempat relatif. Tempat yang mutlak misalnya berdasarkan lokasi astronomis sebagaimana dijelaskan pada paragaf di atas. Sedangkan tempat relatif terkait dengan tempat lainnya di suatu ruang atau wilayah. Misalnya kota Jakarta dapat dikatakan sebelah timur, tetapi pada waktu yang lain dapat dikatakan di sebelah barat, tergantung dari mana kita menyebutnya. Pada saat kita berada di Propinsi Banten, maka Jakarta berada di sebelah timur tetapi manakala kita berada di Kota Subang maka Jakarta berada di sebelah barat.

2. Tempat sebagai suatu wilayah dapat membentuk suatu pola

Tempat sesuatu yang terpilih dan dipertimbangkan berdasarkan pemikiran rasional umumnya akan membentuk suatu pola. Jika tersebar dalam ruang, tempat-tempat tertentu dapat membuat suatu jaringan yang terpadu. Dalam mengkaji tempat, orang dapat menganalisisnya berdasarkan pola sebarannya, pola keterkaitannya, dan pola ketergantungannya.

Identifikasi persebaran objek geografi yang paling efektif adalah melalui peta. Kelebihan peta dalam menampilkan data atau informasi yang terkait dengan unsur geografis selain mengidentifikasi persebaran, juga pola dan hubungan objek geografi.

3. Pola dan hubungan antar tempat geografi

Pada peta kita dapat mengidentifikasi suatu pola tertentu. Pada sejumlah disiplin ilmu seperti planologi (perencanaan wilayah), hidrologi, dan biogeografi sangat berkepentingan mempelajari pola-pola tertentu pada peta. Dalam planologi dikenal pola pengembangan wilayah kota dan desa. Gambar dibawah ditampilkan contoh pola persebaran permukiman di wilayah perdesaan.

Pola persebaran di atas terkait dengan objek geografi lain misalnya, pola permukiman yang memanjang sungai. Hal tersebut menandakan bahwa pola kehidupan masyarakat kampung tersebut sangat tergantung dengan aliran sungai, misalnya untuk memenuhi kebutuhan mencuci, kebutuhan sarana transportasi, mencari penghidupan (mencari ikan), dan lain-lain.

Hubungan antara objek geografi dapat pula digambarkan antara adanya tempat sesuatu membuktikan adanya sesuatu di tempat sekitarnya. Ketika ada delta di muara sungai, maka dapat dipastikan bahwa di daerah hulu sungai mengalami erosi lahan yang kuat. Melalui aliran sungai bahan hasil erosi di bawa menuju muara dan di endapkan di muara sungainya

Pola dan hubungan antara faktor kegiatan manusia dengan lingkungan fisik dapat dilihat pada gambar di bawah ini pada Buku interaksi desa-kota karangan R. Bintarto (1989) bahwa pola perluasan kota lebih cepat berkembang ke arah kota perdagangan dibandingkan dengan daerah laut atau pegunungan. Perbedaan pola perluasan tersebut tentunyan terkait bahwa aktifitas manusia cenderung mencari penghidupan ke daerahdaerah yang lebih ramai.

4. Menentukan Tempat untuk kegiatan Industri

Penerapan ilmu menentukan tempat atau lokasi, banyak dikaji oleh para perencana wilayah dalam kegiatan industri. Banyak teori lokasi yang digunakan untuk menentukan lokasi industri. Pengambilan keputusan untuk memilih lokasi merupakan kerangka kerja yang prospektif bagi pengembangan suatu kegiatan yang bersifat komersil, yaitu pemilihan lokasi-lokasi yang strategis, artinya lokasi itu memiliki atau memberikan pilihan-pilihan yang menguntungkan dari sejumlah akses yang ada. Semakin strategis suatu lokasi untuk kegiatan industri, berarti akan semakin besar peluang untuk meraih keuntungannya. Jadi, tujuan dari penentuan lokasi industri yaitu untuk memperbesar keuntungan dengan menekan biaya produksi dan meraih pasar yang besar dan luas.

Faktor-faktor yang mempengaruhi atau perlu diperhitungkan dalam menentukan lokasi industri dinamakan faktor lokasi, yaitu sebagai berikut:

  1. Bahan mentah, merupakan kebutuhan pokok dalam kegiatan industri, sehingga harus selalu tersedia dalam jumlah besar demi kelancaran produksi.
  2. Modal, peranannya sangat penting untuk kelancaran kegiatan produksi, baik dalam pengadaan bahan mentah, upah kerja dan biaya produksi lainnya.
  3. Tenaga kerja, merupakan tulang punggung kelancaran proses produksi, baik jumlah maupun keahliannya.
  4. Sumber energi, kegiatan industri memerlukan sumber energi, baik berupa energi listrik, BBM dan gas.
  5. Transportasi dan komunikasi, lokasi industri harus dekat dengan prasarana dan sarana angkutan atau perhubungan dan komunikasi, seperti jalan raya, jalan kereta api dan pelabuhan untuk memudahkan pengangkutan hasil industri dan bahan mentah, serta telepon untuk memudahkan arus informasi.
  6. Pemasaran, lokasi industri harus menjangkau konsumen sedekat mungkin agar hasil produksi mudah dipasarkan.
  7. Teknologi, penggunaan teknologi yang kurang tepat guna dapat menghambat jalannya suatu kegiatan industri. 
  8. Peraturan, peraturan atau perundang-undangan sangat penting demi menjamin kepastian berusaha dan kelangsungan industri. seperti peraturan tata ruang, fungsi wilayah, UMR, perijinan, sistem perpajakan dan sebagainya, 
  9. Lingkungan, faktor lingkungan yang kurang kondusif selain menghambat kegiatan industri juga kurang menjamin keberadaannya. Misalnya keamanan, jarak ke lokasi pemukiman, polusi atau pencemaran, dan sebagainya. 
  10. Iklim dan sumber air, menentukan kegiatan industri, artinya keadaan iklim dan ketersediaan sumber air jangan sampai menghambat kegiatan produksi. Namun semua faktor industri tersebut tentunya tidak seluruhnya dapat diakomodasi secara keseluruah. Terkadang satu industri akan lebih dekat dengan lokasi bahan baku tetapi jauh dengan lokasi pemasaran, atau sebaliknya. Karena banyak faktor yang harus dipertimbangkan maka lahirlah teori-teori untuk membantu memecahkan masalah penentuan lokasi, yaitu harus didasarkan pada faktor-faktor produksi paling dominan dari suatu kegiatan industri.

Category

Agama (2) Bahan Ajar (1) Bahasa Indonesia (2) Bahasa Inggris (2) Bank Soal (9) Download (10) E-Rapot (2) IPS (3) Kisi-Kisi (10) Matematika (3) Pedoman (1) Penilaian (2) Permendikbud (1) PKn (2) POS (1) PTK (1) RPP (4) Seni Budaya (3) Soal (3) Ujian Nasional (4) UN (2) USBN (9)